Epistemologi Feminis dalam Isu Lingkungan (Bag. 1)

Maryam Jameelah

Abad ke 20 menjadi sebuah dekade di mana gerakan massa mulai terfokus pada jenis gerakan pembebasan, salah satunya adalah di ranah ekologi. Setelah eksploitasi sumber daya alam besar besaran yang terjadi di seluruh belahan dunia, mulai timbul kesadaran bahwa Planet ini sedang terancam. Puncaknya adalah publikasi dari sebuah disertasi yang di tulis Oleh Carl Sagan tentang  Efek Rumah Kaca yang terjadi pada planet venus memberikan pukulan yang sangat tajam pada ilmu pengetahuan tentang alam, yang pada masa itu masih terfokus pada eksplorasi sumber daya. Seperti pengeboran minyak, pembakaran batu bara untuk tenaga listrik, hingga eksplorasi ke Antartika demi mencari sumber cadangan energi yang disadari bisa saja suatu saat habis. Setelah publikasi Carl Sagan perihal Venus yang dulunya sehijau dan seasri bumi, kini perubah menjadi planet terpanas di tata Surya dengan suhu 460 derajat dikarenakan greenhouse-effect yang luar biasa. Dunia Ilmu pengetahuan mulai memperhatikan pentingnya menjaga kelestarian alam di bumi.

Tidak hanya dalam ranah aplikatif, dalam ranah filosofis pun mulai berkembang pemikiran akan hak hak Alam dan seluruh elemen non-manusia akan status moral. Pemberian status moral ini di pandang perlu dikarenakan manusia harus berhenti menjadikan alam sebagai objek. Manusia perlu memahami bahwa ada subjek lain selain dirinya yang juga memiliki pengetahuan akan ‘dirinya’ sendiri, dan mampu menentukan ‘dirinya’ sendiri. Dalam hal ini Alam memiliki pengetahuan akan dirinya. Tanah, air, udara dan karang memiliki suatu mekanisme untuk berkembang dan bergerak dalam siklus alamiahnya, gunung dan pantai tahu bagaimana cara menghancurkan, atau pun memperbaiki dirinya ketika mulai terjadi ketidak seimbangan. Pemberian status moral pada seluruh elemen manusia ini dalam rangka menerima ‘mereka’ sebagai subjek dan badan pengetahuan yang sama seperti manusia.

Para environmentalist di masa itu memandang manusia akan celaka jika terus menerus terjebak dalam paradigma yang antroposentris. Hal ini di karenakan akan prasangka yang muncul bahwa manusia memikirkan keselamatan dan keseimbangan alam untuk dirinya sendiri. Isu isu lingkungan digaungkan karena ketakutan manusia akan hilangnya tempat tinggal dan sumber energi, dan bukan karena rasa altruisme dan kesadaran akan adanya subjek dan badan pengetahuan di luar diri mereka yang selama ini telah sangat berkontribusi pada kehidupan umat manusia. Pemahaman ini pertama kali di sampaikan oleh Aldo Leopold, lalu di transformasikan secara progresif oleh para environtmentalis radikal seperti, Anne Naess dan Murayy Bokchin. Mereka menuntut sebuah kehidupan yang interaktif di mana dialog dialog yang tidak lagi terhalang oleh bahasa terjadi antara diri manusia dan non-manusia. Prokreasi yang bersifat relasional dan kontekstual antara Manusia dan Alam diharapkan dapat membangun suatu tatanan kehidupan yang terlepas dari unsur dominasi dan hierarkis. Hal ini baru akan terjadi ketika manusia mulai memandang subjek subjek di luar dirinya sebagai  suatu subjek yang setara. Dalam hal ini Alam bukan lagi ‘sang liyan’. Alam merupakan subjek badan pengetahuan yang setara dengan manusia.

Di antara wanita dan alam

Jika di telisik lebih dalam kita akan menemukan suatu pola opresi yang sama pada diskursus tentang perempuan maupun diskursus tentang lingkungan, baik secara konseptual, simbolik maupun linguistik. Perempuan dan alam masih terjebak sebagai objek opresi, dan stigma akan ‘sang liyan’. Dalam pola ini perempuan berada dalam posisi yang sama dengan Alam sebagai subjek tersubordinasi yang terus di ekploitasi. Keduanya sama sama di bentuk pada struktur pemahaman sebagai penanggung ‘kodrat’ akan sifat sifat feminin seperti perawat, penjaga, pemberi, pelestari alam. Kodrat ini harus di tanggung keduanya atas imbas suatu konstruksi sosial yang menurut Karen Warrent, di bentuk oleh nilai, kepercayaan, pendidikan, dan tingkah laku yang memakai kerangka kerja patriarki. Dalam dua diskursus ini kerangka patriarki meniscayakan adanya suatu dualitas hierarkis di mana manusia atau laki laki sebagai dominan, dan alam atau perempuan sebagai submisiv. Maka dalam dua diskursus ini di butuhkan keterbukaan dan penghapusan hierarkis oleh subjek subjek dominan. Agar perempuan dan alam tidak lagi terjebak dalam relasi kekuasaan yang timpang baik dalam diskursus perempuan maupun diskursus lingkungan. Atas dasar ini maka punggawa feminis perlu memahami adanya suatu keterkaitan yang erat antara perempuan dan alam.

Empat belas tahun setelah dunia mulai menyadari pentingnya penyelamatan alam akan opresi yang di buat oleh manusia, Francoise de’ Eabonne pun dalam karyanya yang mashur berjudul Le Féminisme ou la Mort memperkenalkan istilah Ekofeminisme. Menurut Eabonne pembebasan opresi terhadap alam dan tidak dapat di pisahkan dari pembebasan terhadap perempuan. alam dan perempuan terkait satu sama lain. Opresi terhadap salah satu di antara keduanya akan berdampak pada yang lainya. Hal ini dikarenakan kerangka berpikir patriarkis membebankan seluruh proses keseimbangan ekologis, seperti produksi, reproduksi, dan prokreasi pada objek ‘liyan’ di antaranya alam dan perempuan. ‘Kodrat’ ini menjadikan laki laki seolah lepas tangan dengan aktivitas pelestarian alam yang sebagian besar berada di wilayah domestik. Keterlibatan perempuan seorang dalam tanggung jawab domestik menjadikannya subjek pertama yang menerima dampak perusakan alam.

Ekofeminisme sebagai sebuah keberpihakan.

Pada mulanya punggawa feminisme memiliki sedikit prasangka terhadap ekofeminisme itu sendiri. Sebagian besar pemikir feminis yang beranggapan bahwa opresi disebabkan oleh beban beban reproduksi berpikir bahwa ekofeminisme adalah suatu gerakan menfemininkan perempuan. ekofeminisme dianggap menyetujui status quo yang menyatakan bahwa perempuanlah yang bertanggung jawab atas segala proses ekologis seperti produksi, reproduksi, dan prokreasi. Hal ini justru semakin mengukuhkan perempuan sebagai subjek subordinat dan lemah. Pemahaman ini sangat berbahaya, karena pemahaman ini menjadikan gerakan feminisme yang mulanya berusaha melepaskan perempuan dari kata ‘kodrat’, menjadi ahistoris.

Hingga akhirnya empat tahun kemudian Eabonne menerbitkan karyanya yang lain berjudul Écologie, féminisme : révolution ou mutation.  Dalam karya ini Eabonne mengungkapkan perempuan dan alam berdiri bersama sebagai subjek yang tersurobdinat. Keberpihakan perempuan terhadap alam merupakan suatu bentuk gerakan feminisme itu sendiri. Perempuan dan alam bertemu bukan atas kesadaran akan kesamaan kodrat, namun perempuan dan alam bertemu atas kesadaran penindasan yang dilakukan oleh para subjek dominan. Perempuan dan alam harus dilepaskan dari beban dan tanggung jawab akan keseimbangan ekologis, produksi, reproduksi dan prokreasi. Lebih dari itu tanggung jawab tersebut harus ditanggung bersama oleh seluruh semesta. Jika peran peran produksi seperti penyediaan air, energi, dan kelahiran individu baru dari rahim perempuan dan subjek non manusia yang betina tak mampu di tanggung oleh manusia pada umumnya dan laki laki pada khususnya, Maka menjaga keseimbangan alam dengan tidak mengeksploitasi dan menindas subjek subjek penanggung domain produksi dan reproduksi adalah salah satu cara bijak yang di minta oleh ekofeminisme.

 

Dalam hal ini kita akan menemukan beberapa contoh kasus, di antaranya dalam kasus yang terjadi di Kendeng, tambang yang didirikan pabrik Semen Indonesia menjadi sebuah simbol maskulinitas dan keangkuhan, hanya akan ada laki laki yang berdaya di wilayah tersebut. Perempuan yang berkutat di wilayah domestik akan menjadi subjek kedua yang terkena imbasnya, setelah Alam. Kerusakan alam dimulai dari berbagai titik mata air yang rusak karena tambang, sedangkan perempuan sebagai pemegang tanggung jawab akan persediaan air, untuk memasak, dan kebutuhan domestik lainya dipaksa untuk merelakan harkat dan martabatnya diwilayah domestik terampas oleh tambang.

Tidak hanya di wilayah Indonesia saja di India, Filipina hingga Afrika kita akan selalu menemukan kisah kisah penindasan perempuan yang bersanding dengan alam. The Guardian melaporkan bahwa dunia menderita krisis ekologis yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan krisis finansial, hal ini di karenakan manusia menggunakan energi 30% lebih tinggi dari energi yang dihasilkan bumi setiap tahunnya. Akibatnya kita harus menanggung “hutang” kerugian ekologis sebesar 4,5 triliun USD setiap tahunnya. Angka ini di dapat dari laporan tahunan PBB perihal nilai ekonomis manfaat Alam yang berkurang setiap tahunnya, di hitung dari  curah hujan, dan ketersediaan pangan di dunia. Masalah ini diperparah dengan laporan laporan peningkatan jumlah populasi dan berimbas pada peningkatan jumlah konsumsi. Hingga dalam laporan itu disebutkan bahwa jika manusia terus mempertahankan pola hidup eksploitatif, maka pada 2030 umat manusia membutuhkan dua planet untuk memenuhi kebutuhannya. Laporan ini di terbitkan pada 2008 dan pada tahun 2016 hutang ekologis tidak pernah mengalami penurunan. Dari fenomena ini perempuan menjadi subjek pertama yang terkena imbasnya, usaha usaha penekanan populasi dilimpahkan pada perempuan saja. Hal ini karena anggapan bahwa satu satunya cara untuk menekan populasi adalah dengan meregulasi rahim yang melekat pada diri perempuan. Teknologi teknologi reproduksi pun di ciptakan atas dalih penyelamatan alam. Sekali lagi perempuan jatuh dalam eksploitasi sebagai subjek penanggung beban reproduksi. Proyek proyek bioteknologi yang dilahirkan oleh pasar atas persetujuan masyarakat kapital kembali menjadikan perempuan sebagai ‘satu satunya’ obat penawar bagi permasalahan ini. Penindasan akan alam dan perempuan tidak pernah terpisahkan.

Pada intinya Epistemologi feminis dalam ranah ekologi ini tidak terbatas pada sudut pandang perempuan saja, lebih dari itu filsafat feminis berusaha menggunakan seluruh sudut pandang subjek di alam semesta untuk menemukan solusi akan tidak adilan yang meradang. Dalam hal ini ekofeminisme merupakan suatu bentuk gerakan feminisme yang lebih luas. Ekofeminisme tidak hanya berusaha mencegah dan melawan segala bentuk penindasan yang melekat dalam diri perempuan, lebih dari itu ekofeminisme berusaha melindungi semesta dan seluruh subjek dalam makrokosmos dari eksploitasi dan opresi yang dilakukan oleh subjek subjek dominan. Karena siapa pun juga ketika ia memutuskan untuk berpihak pada seluruh subjek tertindas di alam semesta, maka ia adalah seorang feminis. 

 

*Gubuk Justice Perempuan Bergerak

 

Tulisan ini merupakan review materi kuliah Ekofeminisme Jurnal Perempuan Indonesia yang di ampu oleh Gadis Arivia. Bagian 1

Materi tambahan :

De. Eabonne. Francois, Feminism or Death  1974

De. Eabonne. Francois, Ecology, Feminism : Revolution or mutation 1978

World is facing a natural resources crisis worse than financial crunch. Artikel ini di publikasikan oleh The Guardian, pada 29 oktober 2008

 

Leave a Reply