Transformasi Filosofis Gerakan Lingkungan

 

Maryam Jameelah Al-Yasmin

 

Abad 20 menjadi sebuah momentum besar bagi beberapa gerakan pembebasan. Di antara berada dalam ranah diskursus lingkungan. Hingga sebuah klimaks akan katarsis panjang terjadi di akhir abad ini. Mulai terjadi pergeseran asumsi filosofis pada gerakan gerakan lingkungan di belahan dunia. Para environtmentalis di masa awal di anggap masih terlalu eksploitatif dalam memandang Alam. Alam masih di anggap sebagai sebuah ‘objek’ yang berhak atas perbaikan dan moral status dari manusia. Sehingga status moral menjadi sebuah diskursus yang antroposentris dan miskin dialog. Hal tersebut memicu munculnya kritik tajam dari para environtmentalis hari ini.  Environtmentalis pada dekade awal di anggap masih belum secara utuh menganggap Alam sebagai ‘subjek’ lain di luar diri manusia. Pemikir lingkungan di fase awal masih berkutat dengan kepentingan kepentingan manusia.

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pemberian status moral pada subjek non manusia. Yang pertama, adalah kesadaran bahwa manusia sebagai satu satunya subjek non-produksi dengan konsumsi tertinggi memiliki tanggung jawab moral dan hutang ekologis terhadap alam yang telah menyediakan energi untuk kelangsungan hidupnya. Kedua, bahwa manusia harus menganggap alam sebagai badan pengetahuan di luar dirinya. Alam harus di akui sebagai subjek hidup (being-alive) yang memiliki rasionalitas dan mampu mengatur dan memperbaiki dirinya sendiri. Alam memiliki bahasa dan jiwanya sendiri, dan manusia harus mampu membangun dialog dengannya. Ketiga, manusia seharusnya mampu memahami faktor faktor intrinsik dari alam yaitu alam memiliki nilai nilai diri yang sama dengan manusia yang berada di luar batas bahasa manusia, dan alam juga memiliki faktor ekstrinsik sebagai partner yang melengkapi kehidupan manusia.

Dari ketiga aspek tersebut mengutip Karen Warrent, Gadis Arivia mengklasifikasikan transformasi filosofis gerakan lingkungan, menjadi empat arus utama sebagai berikut:

Paradigma House

Fase ini di prakarsai oleh Garett Hardin dengan teori “Lifeboat Ethics” yang berarti sekoci penyelamat. Paradigma ini banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin. Paradigma ini di pandang sangat berbahaya oleh para environtmentalis radical. Dalam paradigma ini Hardin menggambarkan sebuah metafora sekoci penyelamat, di dalam sekoci ini berada negara negara kaya dengan sumber energi berupa makanan di dalam sekoci yang ‘hanya mencukupi’ dirinya sendiri. Lalu di luaran sekoci berenang negara negara miskin yang berusaha menyelamatkan diri dan meminta bantuan negara negara kaya yang berada dalam sekoci, mereka tidak memiliki sedikit pun sumber daya bagi dirinya sendiri. Bahkan dalam metafora ini Hardin mengungkapkan perlunya memikirkan nilai nilai ekologis yang paling efisien, ketika ada ‘individu individu’ sekarat dan tidak tertolong di dalam sekoci makan individu itu perlu di korbankan dan membunuh dirinya sendiri demi ‘saving energy’ yang terbatas di dalam sekoci dan demi menyelamatkan ‘individu lain dengan harapan hidup yang lebih baik. Paradigma ini hanya menekankan nilai pada diri manusia manusia dominan dan bahkan mengesampingkan hak hak hidup subjek rentan yang seharusnya menjadi tanggung jawab subjek dominan.

Paradigma Reformis

Paradigma yang kedua adalah paradigma Reformist yang dikemukakan oleh Peter Singer seorang yang mendeklarasikan dirinya sebagai utilitarian hedonis. Ia menyampaikan pemikirannya tentang Animal Liberation sebuah aplikasi etik yang menganalisis mengapa dan bagaimana kepentingan makhluk hidup harus ditimbang. Prinsipnya ia memandang bahwa ada makhluk hidup lain yang juga memiliki kecenderungan untuk menghindari rasa sakit. Prinsip ini berusaha membenarkan perlakuan berbeda untuk kepentingan yang berbeda, tanpa menghindari memungkinkan perlakuan yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Misalnya, pendekatan ini akan memperhatikan hak istimewa akan makanan pada ‘subjek’ yang kelaparan dibandingkan ‘subjek’ yang tidak terlalu lapar lapar. Paradigma ini memungkinkan manusia memperhatikan ‘subjek’ lain di luar dirinya sebagai badan pengetahuan. Namun paradigma ini hanya mampu menyentuh sebagian subjek saja, ia belum mampu menyentuh hak hak tanah, hak air, dan lain sebagainya.

Paradigma Mixed Reform and Radical

Paradigma ini merupakan paradigma refromis yang mendekati radikal. Punggawanya ialah Aldo Leopord, dengan “Etika Tanah”nya. Aldo Leopord mengelaborasi dogma dogma relijius kedalam sebuah moral etik yang ramah pada alam. Pemikirannya mengacu pada 10 perintah Allah (the ten Commandements) sebagai suatu standart moral yang harus dipahami manusia untuk interaksi nya dengan sesama manusia, masyarakat dan subjek subjek non manusia. Dalam etika tanahnya, Leopord memberi contoh bagaimana manusia sejak zaman Yehezkiel hingga zaman Yesaya telah melakukan perampokan yang luar biasa terhadap tanah dan apa apa yang berada di atasnya. Manusia tidak memikirkan hak hak tanah atas ‘dirinya’. Leopord menyampaikan pentingnya memandang hak hak ekologis subjek non manusia demi terciptanya integritas, stabilitas dan keindahan komunitas biotik. Paradigma ini telah hampir memberikan moral status secara utuh pada subjek subjek non manusia meski pada akhirnya pemikiran ini masih mendapatkan kritik pada arus paradigma ke empat.

Paradigma Radikal

Paradigma ini berusaha memberikan status moral yang dialogis kepada seluruh subjek di dalam semesta, baik itu manusia maupun non manusia. Namun paradigma ini memecahkan diri menjadi beberapa aliran pemikiran berdasarkan kerangka urutan masalah, di antaranya :

1.       Deep Ecology

Aliran ini berlandaskan pada teori sistem kehidupan Gaia. Dalam karyanya tentang Deep Ecology, Anna Naess mengungkapkan bahwa Alam merupakan kesatuan homeostasis, mereka saling terhubung dan membangun kesinambungan antar organisme. Hubungan yang kompleks ini terjalin dengan erat satu sama lain, sehingga apabila terjadi ketidak seimbangan pada salah satu subjek maka akan menyebabkan ketidak seimbangan pada subjek subjek lainya.

2.       Bioregionalisme

Aliran ini memandang bahwa sistem politik, budaya, dan ekologi bergantung pada karakteristik fitur fisik dan lingkungan suatu masyarakat tinggal. Komponen komponen lingkungan seperti karakteristik tanah, air, tumbuhan sangat mempengaruhi cara manusia bertindak, sehingga melahirkan karakter karakter interaksi dan habituasi khusus. Hal ini menunjukkan kehidupan politik bermasyarakat dan spiritualitas manusia secara langsung bergantung pada alam. Oleh sebab itu aliran ini memandang jika alam tetap lestari maka kehidupan manusia juga akan senantiasa lestari.

3.       Sosial-Politik Ekologi

Di dalam aliran ini muncul salah satu nama tersohor yaitu Murray Bookchin seorang anarko dari Amerika. Dalam karyanya yang berjudul “what is social echology” Bookchin mengungkapkan pendapatnya bahwa seluruh masalah ekologi yang kita hadapi merupakan sebuah konsekuensi akan tatanan sosial dan politik yang tidak berimbang. Ketidak mampuan manusia dalam mengolah kehidupan sosial dan politiknya memberikan dampak yang cukup berbahaya pada alam. Aliran ini menganggap dominasi dan akumulasi hierarkis yang meradang pada tata cara manusia berinteraksi haruslah diselesaikan terlebih dahulu untuk mengatasi masalah masalah ekologis ini. Bookchin memandang interaksi tanpa kelas, hierarki, dan dominasi adalah jawaban dari berbagai persoalan ekologi.

4.       Ekofeminisme

Ekofeminisme memandang bahwa interaksi hierarkis yang dibentuk oleh masyarakat Kapitalis-patriarkis menjadi sebab bagi segala penindasan pada subjek subjek rentan seperti perempuan dan alam. Ekofeminisme juga memandang semesta sebagai sebuah kesatuan yang inheren dan saling terhubung. Sehingga apabila terjadi penindasan di antara salah satu subjek (contoh: alam) maka akan melahirkan penindasan penindasan baru pada subjek rentan lainnya (contoh: perempuan). oleh sebab itu ekofeminisme memandang bahwa pembebasan subjek subjek rentan tidak bisa dilakukan secara terpisah melainkan di lakukan secara bersama sama dengan meniadakan interaksi interaksi yang berlandaskan kerangka berpikir patriarkis.

 

 

Pemaparan di atas merupakan rangkuman dari berbagai transformasi filosofis gerakan lingkunga. Pemikiran pemikiran ini tidak akan pernah berhenti di kritisi dan akan selalu berkembang hingga suatu hari kita tiba pada masa bahwa perbincangan tentang masalah ekologis hanya menjadi sebuah ulasan sejarah di masa lalu. (Maryam Jameelah- Gubuk Justice Perempuan Bergerak)

 

Tulisan ini merupakan review materi kuliah Ekofeminisme Jurnal Perempuan Indonesia yang di ampu oleh Gadis Arivia. Bagian 2

Materi tambahan :

De. Eabonne. Francois, Feminism or Death  1974

Bookchin. Murray., What is Social Ecology? From Social Ecology and Communalism, AK Press, first printing, 2007

M, Ryan “Bioregionalism: Place Shapes Identity”. Towards Cascadia. 2017

Leopold. A., A Sand County 1949

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked (required)