Kategori: Lingkar Belajar

Saya vs Patriarki

Gea Citta Siklus menstruasi saya nggak sesuai dengan penjelasan sistem reproduksi perempuan di buku teks biologi. Di parade Hari Perempuan Internasional pertama di Jakarta tahun 2017, atau lebih dikenal dengan Women’s March Jakarta, saya nggak bisa ikutan karena bertepatan dengan hari pertama datang bulan. Setelah ditunggu hampir dua bulan lebih, ‘tamu’ itu datang sepaket dengan […]

Gea Citta

Siklus menstruasi saya nggak sesuai dengan penjelasan sistem reproduksi perempuan di buku teks biologi. Di parade Hari Perempuan Internasional pertama di Jakarta tahun 2017, atau lebih dikenal dengan Women’s March Jakarta, saya nggak bisa ikutan karena bertepatan dengan hari pertama datang bulan. Setelah ditunggu hampir dua bulan lebih, ‘tamu’ itu datang sepaket dengan rasa sakit cenat-cenut luar biasa ‑ rasa sakit yang akhirnya diakui peneliti setara dengan rasa sakit pada serangan jantung, bukan rasa sakit yang diada-adain karena “dianya aja yang drama.”

“Menstruation is the only blood that does not come from violence yet it's the one that disgusts you the most. Imagine if men were as disgusted with rape as they are with period.” Menstruasi adalah satu-satunya darah yang tidak berasal dari kekerasan namun bikin kamu [bergidik] jijik. Bayangkan kalau laki-laki juga jijik sama perkosaan kaya mereka jijik sama darah mens.

credit: @Sarasdewi via Twitter, Parade di Jakarta

Saya pun bisa ikut parade tahun kedua, yaitu di Sabtu, 4 Maret 2018. Saya berangkat terlambat, jadi, saya langsung menyusul rombongan di Taman Aspirasi. Senang rasanya bisa melihat wajah orang-orang yang juga peduli dengan isu yang saya beri perhatian besar. Saya amati kaos yang dikenakan peserta parade dan poster-poster yang mereka bawa. Dari observasi terbatas itu, saya bisa ambil kesimpulan cepat-cepat tentang keragaman latar belakang di sana. Yang paling kentara tentu dari latar kelas; isu kebebasan berekspresi (tubuhku, otoritasku) diwakili oleh kelas ekonomi menengah ke atas dan isu perlindungan hak kelas pekerja (buruh perempuan dan asisten rumah tangga). Ada juga peserta yang membawa bendera warna-warni pelangi sebagai simbol solidaritas bagi teman-teman Lesbian, Gay, Bisexual, Trans-seksual, Intersex, Queer (LGBTIQ). Tentu bukan berarti persoalan terkait kebebasan berekspresi hanya dirasakan oleh perempuan dengan privilese kelas menengah-atas. Demikan halnya dengan isu perlindungan kerja yang tidak eksklusif milik kelas menengah ke bawah. Semua isu ini sesungguhnya saling terkait satu sama lain (dan mesti ditulis terpisah untuk memperlihatkan irisannya). Hanya saja sestiap perempuan memiliki keinginan untuk menyuarakan fokus isu yang ia anggap dekat dengan kesehariannya. Dan perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan.

Namun, terlepas dari dari latar belakang ekonomi, sosial-budaya, orientasi seksual yang berbeda-beda, saya yakin, sehari-hari kami berbagi beban dari ujaran-ujaran yang sama:

“Anak cewek kok malem2 masih main di luar..”

“Cewek kok main game/sekolah teknik, sih!”

“Ya ceweknya juga sih, pake baju kok yang paha sama lengannya kemana-mana, ya wajar lah diperkosa!!!”

“Ya akhwat kok pergi-pergi nggak sama mahramnya, ya jangan heran ada yang nge-grepe-grepe di bus.”

*Pakai masker, baju kedodoran, keringetan* “Neng, sendirian aja, mau kemana, neng?”

“Nggak usah cari-cari beasiswa S2, S3, lah! Ntar cowok pada minder lho, nggak ada yang mau nikahi.”

“Ngapain sih nikah cepet-cepet???”

“Meskipun gaji istri lebih tinggi, ya tetep apa pun yang terjadi mesti nurut sama apa kata suami sebagai kepala keluarga..”

“Nggak usah lah terlalu ambisius.. ambil kerjaan yang biasa-biasa aja, kamu tuh cewek, kodratnya jadi ibu, cewek yang ‘bener’ itu yang bisa ngurus anak sama suami.”

Dll. Dsb. Dst

Dalam bahasa Jawa, “Ndang balio” artinya adalah “cepetan pulang, Sri!” Kalimat ini dapat dimaknai sebagai bentuk perintah bagi anak perempuan untuk segera di rumah atau jangan terlalu lama-lama di luar rumah. Kalimat ini dimodifikasi menjadi seruan untuk melawan kultur Jawa yang juga memuat nilai-nilai yang patriarkis. Feodal pula

Credit: @gillchandra via Instagram, Parade di Yogyakarta

 

Tentu parade tahunan ini tidak akan menghilangkan ujaran-ujaran tersebut dari muka bumi. Cara pandang yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak setara dengan laki-laki umurnya sudah ratusan tahun. Ia bersembunyi di teks-teks filsafat, ada di balik dalil agama, bersemayam di dalam norma-norma adat, bahkan masih dilestarikan oleh infrastruktur sosial yang paling modern sekalipun alias institusi publik. Kalau memang sedari awal perempuan terlahir di dunia yang setara, tidak akan ada tuntutan perempuan di abad 19-20 yang meminta:

  • Hak membeli properti
  • Hak memilih
  • Hak untuk bercerai dan hak asuh anak
  • Hak bersekolah tinggi (karena dulu universitas tidak menerima mahasiswi)
  • Hak untuk bekerja sesuai dengan minatnya (beberapa pekerjaan seperti dokter dan pengacara tidak terbuka bagi non-laki-laki.)

Dengan kata lain, akses terhadap pembelian properti, pemilihan umum, kesempatan kerja yang hari ini kita nikmati adalah hasil dari jerih payah solidaritas perempuan pada masa itu. Hak-hak tersebut tidak melekat pada setiap bayi perempuan di zamannya Hak-hak tersebut adalah hasil kerja-kerja advokasi….yang masih terus berlangsung hingga di detik saya mengetik tulisan ini. Dan hak-hak yang direnggut oleh nilai-nilai dalam kultur yang patriarkis tersebut satu per satu akhirnya diperoleh dengan cara, salah satunya, turun ke jalan bersama-sama.

Lantas, apa laki-laki punya tempat di Hari Perempuan Internasional yang identik dengan perjuangan menuju masyarakat yang menjunjung nilai kesetaraan? Ya, tentu saja. Kultur yang patriarkis tidak hanya merugikan perempuan di lingkup politik, ekonomi, dan sosial-budaya, namun juga membentuk standar ideal tentang laki-laki maskulin yang berbahaya.

“Laki-laki itu jangan dikit-dikit nangis, lembek amat…”

“Banci banget sih, jadi laki kok cemen, pukul aja kalau perlu!”

“Laki tapi kok gemulai, ya.. nggak macho manly, gitu..”

“Kok bapaknya kebanyakan di rumah jaga anak, ya.. nggak kerja apa gimana?”

Dll. Dsb. Dst.

Credit: @gillchandra via Instagram, Parade di Yogyakarta

 

Secara umum, nilai dan norma masyarakat di kultur yang patriarkis memang lebih menguntungkan laki-laki terutama dalam perkara akses pendidikan dan pekerjaan. Namun, bukan berarti laki-laki tidak ikut dibebani oleh stereotip dari ujaran sehari-hari yang cenderung menekan ekspresi emosi yang dialami laki-laki. Alhasil, residu-residu emosional yang tidak tersalurkan dengan sehat bermetaforsis dalam bentuk yang lain, mulai dari perilaku abusive, kata-kata kasar yang disejajarkan dengan perangai lumrah dari seorang laki-laki, hingga puncaknya adalah kekerasan fisik dalam pacaran dan rumah tangga dan juga kekerasan terhadap populasi kunci seperti kelompok gay. Seperti sebuah kalimat pada poster pada parade yang lalu, patriarki adalah mimpi buruk laki-laki. Dengan kata lain, musuh kita bersama adalah patriarki.

Credit: @gillchandra via Instagram, Parade di Yogyakarta

 

Tentu hadir di sebuah parade tahunan bukan satu-satunya cara untuk melawan kultur patriarki. Di luar parade banyak sekali yang bisa kita lakukan di mana pun kita berada. Jika Anda seorang orang tua, Anda bisa mulai dengan berhenti membagi peran dengan berdasarkan gender laki-laki dan perempuan. Siapa pun yang sedang memiliki tenaga dan waktu mesti turun tangan dalam urusan-urusan domestik. Dengan begitu, si ayah secara sukarela membuat inisiatif untuk mengerjakan hal-hal yang selama ini dilakukan secara cuma-cuma oleh para ibu rumah tangga, sedangkan, si ibu yang mungkin masih memiliki cita-cita terpendam tetap bisa mengaktualisasikan dirinya melalui pekerjaan tanpa dipusingkan dengan cucian yang menumpuk atau lantai kamar mandi yang kotor. Jika Anda bekerja, berhenti membuat candaan seksis—baik ke laki-laki maupun ke perempuan—yang membuat rekan kerja Anda tidak nyaman. Jika dia diam saja, bukan berarti dia merasa candaan Anda tidak bermasalah. Dia bisa jadi menahan rasa marahnya dan cepat atau lambat akan melampiaskan kekesalannya. Jika Anda mendapati seseorang berbagi cerita tentang tindakan atasan yang menjurus ke arah pelecehan seksual, dengarkan ceritanya. Dampingi dia melapor ke bagian sumber daya manusia. Jika Anda bekerja di bagian SDM, tanggapi laporan tersebut secara serius. Berhenti menormalisasi perilaku-perilaku yang seharusnya tidak lagi kita toleransi.

Keterangan foto:

  1. “Menstruation is the only blood that does not come from violence yet it’s the one that disgusts you the most. Imagine if men were as disgusted with rape as they are with period.”
    Menstruasi adalah satu-satunya darah yang tidak berasal dari kekerasan namun bikin kamu [bergidik] jijik. Bayangkan kalau laki-laki juga jijik sama perkosaan kaya mereka jijik sama darah mens.
  2. “Ndang Balio/Lawano, Sri!”
    Dalam bahasa Jawa, “Ndang balio” artinya adalah “cepetan pulang, Sri!” Kalimat ini dapat dimaknai sebagai bentuk perintah bagi anak perempuan untuk segera di rumah atau jangan terlalu lama-lama di luar rumah. Kalimat ini dimodifikasi menjadi seruan untuk melawan kultur Jawa yang juga memuat nilai-nilai yang patriarkis. Feodal pula.

    “Mbake ngerti nek nde’e ayu, menengo!”
    Secara harafiah artinya adalah “mbaknya tahu kalau dia cantik, kamu diam aja! Seruan ini dapat dikontekstualisasikan pada kebiasaan cat calling di ruang publik terhadap perempuan dengan tujuan iseng, bukan compliment (yang sesungguhnya membuat jengah dan merasa tidak aman) seperti “neng, cantik, mau kemana?”
  3.  “Dapur, sumur, kasur, urusane kabeh”
    Idiom “dapur, sumur, kasur” identik dengan pandangan kegiatan yang berhubungan dengan tiga benda tersebut ditakdirkan untuk menjadi wilayah perempan. Dengan cara pandang seperti ini, perempuan ‘ditahan’ di ruang domestik dengan narasi bahwa tugas alamiahnya adalah melayani si suami dengan masak-memasak dan aktivitas seksual. Patriarki membuat perempuan yang berkeluarga merasa bersalah ketika ia ingin berkarya di ruang publik karena tidak sesuai dengan jutlak kodratnya. Sign ini menegaskan bahwa cara pandang tersebut mestinya tidak berlaku lagi, karena urusan terkait rumah tangga adalah urusan semua orang, apa pun gendernya. Di dalam paradigma feminisme, praktik ini dikonseptualisasikan dalam teori gender performativity.

    “Ngopo siul-siul, mbok kiro aku manuk?”
    Secara harafiah, ini berarti “ngapaian siul-siul, kamu kira saya burung?”. Sign ini juga bentuk protes terhadap cat calling di tempat umum yang terlalu sering terjadi terhadap perempuan.

  4. “Utekmu wae sek ngeres, Cuk!”
    Sign ini secara harafiah berarti “otakmu itu yang mesum!” Kita bisa menerjemahkannya sebagai penolakan terhadap mentalitas masyarakat yang kerap menyalahkan korban pelecehan seksual dan perkosaan. Ketika ada berita atau pengaduan keduanya, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah “dia pake baju kaya apa?”. Padahal, seharusnya yang kita pertanyakan adalah “kenapa pelaku memperkosa dia?”

 

Continue Reading Share